Psikolog pada interogasi brutal CIA mundur dari uskup Mormon

Kantor CIA
Kantor CIA

 

SPOKEN, WAHINGTON, Kawanuapost.com – Salah seorang dari arsitek utama program interogasi ganas CIA mengatakan Kamis waktu AS ini bahwa dia mundur sebagai uskup gereja Mormon yang dijabatnya dari 2012, menyusul kontroversi menyangkut perannya dalam memerangi terorisme.

Tidak ada seorang pun pembuat kebijakan atau pejabat CIA yang didakwa atas penganiayaan para tersangka teror, tapi paling tidak bagi psikolog Angkatan Udara Bruce Jessen ada penolakan di tingkat lokal atas perannya dalam apa yang kemudian disebut “perang melawan teror.”

Jessen mundur dari uskup jemaat Mormon di Spokane, Washington, setelah para aktivis hak-hak sipil dan HAM mengkritik masa lalu profesionalnya di surat kabar setempat.

“Saya hanya merasakan tidak adil bagi saya membawa-bawa kontroversi itu ke banyak orang, oleh karena itu saya memutuskan mengundurkan diri,” kata Jessen kepada Reuters di luar rumahnya di selatan Spokane.

CIA telah membayar 80 juta dolar AS kepada sebuah perusahaan yang dikendalikan Jessen dan mantan psikolog Angkatan Udara yang lain, James Mitchell, begitu bunyi laporan Senat yang disiarkan pekan ini.

Laporan Senat itu mengungkapkan bahwa kedua orang itu merekomendasikan waterboarding (penetasan air secara perlahan-perlahan ke kepala tahanan yang kepalanya ditutup penutup), menampar wajah dan berpura-pura mengubur para tahanan yang disangka teroris.

Kedua orang ini hanya disebut dalam nama samaran pada laporan Senat itu, namun sumber-sumber intelijen mengidentifikasi mereka dengan namanya sendiri.

Mitchell belum lama pekan in menyebut laporan Senat itu ‘sampah’. Jessen mengatakan bahwa sebuah kesepakatan rahasia yang mencegahnya untuk berkomentar.

“Ini posisi yang sulit. Anda ingin terus terang,” kata dia.

Jessen menuduh media menyiarkan pemutarbalikkan fakta mengenai metode interogasi CIA.

Jessen (65) hanya menghabiskan sepekan dalam perannya sebagai kepala jemat beranggotakan 300 orang itu ketika mundur pada Oktober 2012.

“Ini karena keprihatinan pada masa lalunya yang berkaitan dengan teknik interogasi,” kata Eric Hawkins, juru bicara nasional Gereja Jesus Christ of Latter-day Saints atau Mormon, di Salt Lake City.

Posisi uskup ini tidak berbayar dan paruh waktu saja, namun amat dihormati dalam dunia Mormon.

“Para pemimpin lokal telah bertemu dengan Jessen dan bersama-sama telah menetapkan bahwa ini akan sulit bagi dia untuk berperan sebagai pemimpin yang efektif dalam posisinya itu,” kata Hawkins.

Seorang uskup Mormon bertugas selama tiga sampai enam tahun, namun Jessen tetap menjadi anggota jemaat yang sama.

Asosiasi Psikologi Amerika¬† — Jessen dan Mitchell tak menjadi anggotanya– menyeru kedua orang ini untuk bertanggung jawab. Namun para pejabat AZS mengatakan tak akan dakwaan kriminal kepada keduanya. (Reuters)

Tinggalkan Balasan