Setelah Prabowo, Allan Nairn Akan Bidik Kejahatan Wiranto dan Hendropriyono

allan

 

JAKARTA, Kawanuapost.com — Tak hanya bercerita soal Prabowo Subianto, jurnalis investigasi asal Amerika Serikat, Allan Nairn, juga berencana kembali membuka cerita soal sepak terjang mantan Panglima TNI, Wiranto, dan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Hendropriyono. Kedua jenderal itu dianggap Allan juga memiliki rekam jejak yang buruk dalam pembunuhan terhadap warga sipil.

“Tentara Indonesia, ada banyak jenderal yang pernah bunuh orang sipil, termasuk Wiranto dan Hendropriyono, yang mendukung Jokowi. Khususnya Hendropriyono, dia juga punya hubungan akrab dengan intelijen Amerika, meski tetap yang paling dekat itu Prabowo,” ujar Allan dalam diskusi di Jakarta, Rabu (2/7/2014).

Allan menuturkan, dia akan membuka keterlibatan Hendropriyono dalam kasus pelanggaran HAM di Lampung dan juga pembunuhan terhadap aktivis HAM, Munir.

Terkait Wiranto, Allan tidak menjelaskannya lebih lanjut. “Kalau ada waktu, sebelum pemilu, saya juga mau tulis lagi soal Hendro dan Wiranto,” imbuhnya.

Nama Allan Nairn mulai kembali diperbincangkan di Tanah Air setelah keputusannya membuka wawancara off the record dengan Prabowo yang dilakukan pada Juni dan Juli 2001. Allan menceritakan soal sikap Prabowo yang menilai Indonesia tidak siap menghadapi demokrasi, keinginan Prabowo disebut sebagai diktator fasis, hingga kedekatan Prabowo dengan militer, intelijen, dan pengusaha besar Amerika Serikat.

Selama 40 tahun berkarier sebagai jurnalis, Allan kerap melakukan peliputan soal kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM di berbagai negara. Dia pernah meliput kasus pembantaian 271 warga sipil di Dili, Timor Leste, yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Santa Cruz pada tahun 1991.

Tak hanya meliput, Allan bahkan menjadi saksi mata atas peristiwa berdarah itu. Setelah peliputannya itu tersiar ke publik, Allan Nairn bersama Amy Goodman mendapat penghargaan Robert F Kennedy Memorial First Prize.

Selain di Timor, Allan juga pernah meliput kasus pembunuhan aktivis mahasiswa di Guatemala, perang saudara di El Salvador, hingga kasus pelanggaran HAM di Haiti. Dalam berbagai laporannya, Allan Nairn kerap mengungkap peran Amerika Serikat sebagai pemeran di balik layar peristiwa-peristiwa berdarah di berbagai negara.(kpc)

 

Tinggalkan Balasan